Agresi militer Presiden Donald Trump terhadap Iran dinilai berisiko memicu guncangan baru bagi ekonomi Amerika Serikat (AS). Situasi ini menjadi sensitif karena ketidakpuasan pemilih terhadap kondisi ekonomi disebut terus meningkat, delapan bulan menjelang pemilihan umum paruh waktu (mid-term elections).
Dampak domestik yang paling cepat dirasakan warga AS diperkirakan berupa kenaikan harga bensin. Serangan AS dan Israel terjadi hanya beberapa hari setelah Trump, dalam pidato State of the Union, menyampaikan klaim keberhasilan menurunkan harga bahan bakar.
Di pasar, harga minyak mentah tercatat melonjak sekitar 8% pada Senin siang di New York dan kembali disebut naik sekitar 8% pada Senin sore. Meski demikian, para ekonom menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan sejauh mana kampanye penggantian rezim di Iran akan memengaruhi pasar energi.
Menurut analisis tersebut, kunci dampak terhadap ekonomi AS bergantung pada seberapa lama perang berlangsung. Durasi konflik akan menentukan tingkat gangguan terhadap pengiriman minyak dan gas alam dari produsen di kawasan Teluk, yang pada akhirnya dapat memengaruhi tagihan gas rumah tangga di AS.
Perkembangan ini juga menambah kompleksitas bagi Federal Reserve (The Fed), yang telah menghentikan pemangkasan suku bunga dan kini bersikap waspada terhadap potensi kembalinya inflasi. Mantan Menteri Keuangan sekaligus mantan Gubernur The Fed Janet Yellen pada Senin mengatakan situasi tersebut membuat The Fed semakin berada dalam posisi menahan diri atau tetap “on hold”.

