BERITA TERKINI
Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak, Bayangi Prospek Ekonomi Amerika Serikat

Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak, Bayangi Prospek Ekonomi Amerika Serikat

WASHINGTON – Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran menambah tekanan baru bagi ketahanan ekonomi AS, di tengah ketidakpastian global dan lonjakan harga minyak. Presiden Donald Trump memerintahkan serangan terhadap Iran dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Islamis yang telah lama berkuasa, yang kemudian memicu serangan balasan di kawasan.

Trump menyatakan konflik dapat berlangsung setidaknya beberapa pekan. Seiring eskalasi tersebut, harga minyak sempat melonjak dari sekitar US$70 menjadi hampir US$80 per barel pada akhir pekan, sebelum kembali terkoreksi.

Gangguan juga mulai terlihat pada pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap rantai pasok dunia, terutama bila gangguan berlanjut atau meluas.

Meski ekonomi AS dinilai relatif lebih terlindungi dari guncangan energi karena produksi minyak dan gas domestik, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi berpotensi menggerus prospek pertumbuhan yang sebelumnya terlihat lebih optimistis tahun ini.

Survei terbaru Conference Board menunjukkan kepercayaan CEO terhadap prospek ekonomi AS meningkat. Namun, hampir 60% responden menilai ketegangan geopolitik sebagai risiko besar yang dapat mengganggu perekonomian. Bank Dunia sebelumnya menyebut prospek ekonomi AS “kuat”, tetapi konflik di kawasan produsen minyak utama kini menguji penilaian tersebut.

Ekonom JPMorgan Joseph Lupton menilai pemulihan awal aktivitas bisnis terancam. Ia memperingatkan bahwa perang militer yang terjadi di tengah “perang dagang” AS dapat memunculkan kembali kekhawatiran terhadap stabilitas global.

Dampak konflik terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) masih belum pasti. Besarnya pengaruh dinilai bergantung pada seberapa tinggi harga minyak naik serta apakah konflik meluas atau berubah menjadi perebutan kekuasaan internal di Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara.

Pengalaman invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 kerap dijadikan rujukan, ketika bank sentral AS sempat bersikap lebih hati-hati sebelum akhirnya mempercepat kenaikan suku bunga akibat lonjakan inflasi. Sejumlah analis menyebut konflik Iran sebagai “wild card”, terutama jika berkembang menjadi perang berkepanjangan atau mengganggu jalur perdagangan global.

Mantan Ketua The Fed Janet Yellen juga menilai perang berisiko memicu inflasi lebih tinggi sekaligus memperlambat pertumbuhan, sehingga membuat The Fed lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.

Di pasar keuangan, reaksi awal dinilai relatif terkendali. Kontrak berjangka suku bunga masih mengindikasikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan penurunan pertama diperkirakan pada akhir Juli. Imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat turun sebelum kembali naik, sementara dolar menguat dan indeks saham utama AS bergerak bervariasi.