BERITA TERKINI
Konflik Global Tekan Industri Penyamakan Kulit Magetan, Harga Bahan Pendukung Melonjak

Konflik Global Tekan Industri Penyamakan Kulit Magetan, Harga Bahan Pendukung Melonjak

Industri penyamakan kulit hewan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menghadapi tekanan akibat kenaikan harga sejumlah bahan pendukung produksi. Lonjakan biaya ini membuat pelaku usaha bersiap menghadapi peningkatan ongkos produksi, di tengah permintaan pasar yang dinilai masih lesu dalam setahun terakhir.

Di Lingkungan Industri Kulit (LIK) Magetan, para pengusaha disebut terdampak kenaikan harga bahan pendukung yang mayoritas didatangkan dari luar negeri. Kondisi tersebut berimbas langsung pada biaya produksi yang semakin tinggi, sementara pergerakan permintaan belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Ketua Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Magetan, Basuki Rahmawan, mengatakan konflik global yang berlangsung saat ini memicu kenaikan harga bahan kimia pendukung industri samak kulit. Ia menyebut bahan baku utama berupa kulit sapi masih mudah didapat dengan harga yang stabil, namun kenaikan harga bahan pendukung membuat ongkos produksi meningkat.

Menurut Basuki, kenaikan harga bahan kimia seperti pewarna dan pelembut kulit berada di kisaran 20% hingga 50%. Selain itu, harga plastik disebut melonjak hingga 100% atau dua kali lipat. “Karena mayoritas bahan kimia pembantu kita datangkan dari luar negeri, dengan adanya konflik global ini harganya naik,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Basuki menjelaskan, kenaikan biaya tersebut membuat pengusaha harus mencari cara agar usaha tetap berjalan. Ia menilai permintaan kulit siap olah dalam satu tahun terakhir cenderung lesu, sehingga ruang untuk menyesuaikan harga jual menjadi terbatas.

Ia menambahkan, permintaan produk kulit Magetan untuk pasar internasional masih rendah. Kondisi itu membuat pelaku industri lebih banyak memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. “Kita untuk luar negeri masih jarang, rata-rata memenuhi permintaan lokal saja, dalam artian dalam negeri saja,” katanya.

Meski biaya bahan pendukung meningkat, para pengusaha di LIK Magetan disebut belum mengambil langkah menaikkan harga jual. Alasannya, kenaikan harga dikhawatirkan semakin menekan permintaan dan memperburuk arus jual beli kulit siap olah.

Di sisi lain, Basuki menyebut potensi ekonomi usaha penyamakan kulit masih dinilai menjanjikan. Ia menilai komoditas kulit memiliki karakteristik dan ketahanan yang membuatnya sulit digantikan. Namun, ia mengingatkan konflik global yang berkepanjangan berpotensi membawa dampak ekonomi lebih besar bagi industri.

“Kalau digantikan insyallah enggak, kulit ini salah satu material yang spesial. Idealnya harga jual ikut naik, tapi pasar lagi lesu, jadi kami belum berani. Kalau dipaksakan, kasihan pembeli juga,” kata Basuki.