JAKARTA — Konflik antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat dilaporkan meletus pada awal puasa. Perkembangan ini disebut berujung pada tewasnya pimpinan Iran, Ayatullah Ali Khomeini, dalam serangan pada Minggu malam (28/Feb/2026) di Teheran.
Dalam laporan tersebut, serangan terjadi setelah sejumlah bom menghantam area permukiman dan fasilitas yang disebut sebagai kediaman Khomeini. Peristiwa itu menandai peningkatan eskalasi dari ketegangan yang sebelumnya kerap digambarkan sebagai “perang bayangan” dan kini dinilai kian terbuka.
Di tengah situasi itu, muncul pula sorotan terhadap retorika keras yang disebut tidak disertai dukungan dari Rusia dan China, sebagaimana tergambar dalam subjudul yang menyertai laporan.

