Gejolak geopolitik terkait konflik Iran yang disebut mulai memanas sejak awal Maret kini dinilai turut menekan sentimen ekonomi global. Indeks sentimen ekonomi Sentix untuk April 2026 yang baru dirilis dilaporkan mengalami penurunan tajam, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi dalam waktu dekat.
Sentix Economic Sentiment Index merupakan survei yang mengukur tingkat optimisme atau pesimisme investor dan analis terhadap kondisi ekonomi ke depan, terutama di kawasan Eropa. Secara umum, angka di atas nol mengindikasikan optimisme, sedangkan angka di bawah nol menunjukkan pesimisme. Pada rilis April 2026, indeks tersebut disebut turun signifikan dan menjadi salah satu level terendah dalam beberapa waktu terakhir, dengan pelemahan ekspektasi menjadi faktor yang paling membebani.
Menurut narasi yang berkembang di pasar, kekhawatiran meningkat sejak laporan mengenai konflik Iran muncul pada awal Maret. Indikator awal pergerakan pasar (first-mover) disebut telah menunjukkan tanda ketidakpastian pada minggu-minggu pertama bulan itu. Empat minggu berselang, penurunan sentimen yang tercermin dalam rilis Sentix April dinilai memperlihatkan dampak yang lebih luas.
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat kerap memicu efek berantai, mulai dari potensi gangguan pasokan energi seperti minyak dan gas, hambatan jalur perdagangan, hingga risiko meluasnya konflik. Situasi semacam ini biasanya mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mencari instrumen yang dianggap lebih aman.
Tekanan sentimen tersebut juga memunculkan perhatian terhadap pergerakan sejumlah instrumen keuangan. Untuk mata uang utama, pasangan EUR/USD dinilai berpotensi tertekan karena indeks Sentix berkaitan dengan sentimen ekonomi Zona Euro, sementara dolar AS kerap dipandang lebih defensif saat ketidakpastian meningkat. Sementara itu, GBP/USD juga berpotensi terdampak ketidakpastian global, meski pergerakannya disebut dapat dipengaruhi faktor ekonomi Inggris.
Di sisi lain, USD/JPY menjadi perhatian karena baik dolar AS maupun yen Jepang sering dikaitkan dengan aset “safe haven”. Namun, dalam situasi yang berpotensi mengganggu rantai pasok global, permintaan terhadap dolar AS disebut bisa lebih dominan, meski pergerakannya tetap dipengaruhi data ekonomi AS.
Emas juga kembali menjadi sorotan. Dalam periode ketidakstabilan geopolitik dan melemahnya sentimen, logam mulia kerap menjadi pilihan sebagian investor sebagai aset lindung nilai. Karena itu, permintaan emas berpotensi meningkat seiring memburuknya sentimen.
Selain emas, harga minyak turut dipantau ketat. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dinilai berisiko memicu kenaikan harga minyak karena Iran merupakan salah satu produsen penting. Kenaikan harga minyak, di sisi lain, dapat berkontribusi pada tekanan inflasi yang berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, arah pasar diperkirakan sangat dipengaruhi perkembangan situasi di Timur Tengah dan respons negara-negara besar. Apakah eskalasi mereda atau justru meluas akan menjadi faktor kunci yang menentukan dinamika pasar dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang.

