BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Berisiko Guncang Ekonomi Bali, Ketergantungan pada Pariwisata Jadi Sorotan

Konflik Timur Tengah Berisiko Guncang Ekonomi Bali, Ketergantungan pada Pariwisata Jadi Sorotan

DENPASAR — Konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu daya tahan ekonomi masyarakat Bali apabila berlangsung dalam jangka panjang. Struktur ekonomi Pulau Dewata yang sangat bergantung pada pariwisata membuat Bali lebih rentan terhadap gejolak global yang memengaruhi arus perjalanan dan belanja wisata.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Prof. Ni Putu Wiwin Setyari, mengatakan kondisi sosial ekonomi Bali memang menunjukkan perbaikan pada tingkat pengangguran terbuka (TPT). Namun, pada saat yang sama, indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan keparahan kemiskinan (P2) justru meningkat.

“Artinya pengangguran turun, kemiskinan turun, tetapi rentang kemiskinannya masih tinggi. Pekerjaan ada, namun pendapatan belum tentu cukup menjaga daya tahan ekonomi keluarga dalam jangka panjang,” ujar Wiwin Setyari.

Dalam Forum Balinomics yang digelar di The Meru Sanur, Selasa (21/4/2026), ia menjelaskan bahwa situasi tersebut membuat kelompok rentan semakin melemah meski secara makro perekonomian Bali terlihat tumbuh positif. Ia menambahkan, sekitar 50 persen kontribusi pariwisata nasional berasal dari Bali, sehingga setiap gangguan global yang menekan sektor ini akan berdampak langsung ke daerah.

Secara umum, fondasi ekonomi Bali dinilai masih cukup kuat karena aktivitas ekonomi tetap berjalan dan inflasi relatif terkendali. Dalam struktur ekonomi, konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan porsi sekitar 52 persen.

Meski begitu, Wiwin Setyari menilai karakter ekonomi Bali lebih rapuh dan fluktuatif dibandingkan daerah lain. Ia menyinggung pengalaman saat pandemi Covid-19, ketika ekonomi Bali mengalami kontraksi sangat dalam, meski kemudian mampu pulih lebih cepat.

“Karena ekonomi Bali sangat terkonsentrasi pada pariwisata sebagai backbone, maka risikonya tinggi, meskipun recovery juga cepat,” katanya.

Hingga triwulan I 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik masih meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini mempertegas posisi Bali sebagai salah satu destinasi utama dunia.

Namun, ketergantungan yang tinggi pada pariwisata dinilai menjadi tantangan dalam mendorong diversifikasi ekonomi. Menurutnya, pengalaman pandemi belum sepenuhnya menjadi pelajaran untuk memperkuat sektor lain. Ia mencontohkan, saat pandemi kontribusi sektor pertanian sempat menyamai pariwisata di kisaran 13–15 persen, tetapi setelah pandemi struktur ekonomi kembali didominasi pariwisata seperti sebelum krisis.

Selain itu, eskalasi geopolitik disebut turut berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat yang memengaruhi pola belanja wisatawan. Ia menyebut harga tiket domestik yang meningkat hingga Rp3 juta per perjalanan membuat alokasi belanja wisatawan bergeser.

“Kalau sebelumnya wisatawan membawa Rp2 juta untuk belanja di Bali, sekarang sebagian besar habis untuk tiket, sehingga pengeluaran di destinasi menurun,” ujarnya.

Penurunan daya beli wisatawan ini berpotensi menekan pariwisata dan sektor terkait seperti UMKM, perdagangan, dan logistik. Sementara itu, sektor pertanian dinilai relatif lebih tahan meski tetap terdampak secara tidak langsung.

Wiwin Setyari menegaskan, tanpa transformasi ekonomi yang serius, ketergantungan tinggi terhadap pariwisata dapat menjadi sumber kerentanan pada masa depan. Ia menilai apabila konflik global terus berlanjut dan menekan sektor pariwisata, dampaknya akan semakin terasa terhadap stabilitas ekonomi Bali secara keseluruhan.