Pengamat Ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menilai upaya pengendalian inflasi nasional saat ini menghadapi tekanan kuat dari faktor eksternal, terutama dampak konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Gunawan mengaitkan rilis Badan Pusat Statistik yang mencatat inflasi bulanan 0,68 persen dengan situasi global yang terjadi bertepatan dengan operasi militer Amerika Serikat ke wilayah Iran. Menurutnya, perkembangan tersebut telah melambungkan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh level US$ 78 per barel dan berpotensi mengancam stabilitas harga energi di dalam negeri.
Ia menjelaskan, harga BBM non-subsidi pada dasarnya mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Namun, dampak konflik Iran dan Amerika Serikat dinilai tidak berhenti pada sektor energi saja.
Menurut Gunawan, konflik geopolitik berpeluang memicu gangguan rantai pasok global untuk berbagai komoditas strategis. Ia mencontohkan pengalaman saat perang Rusia dan Ukraina, ketika lonjakan harga komoditas pangan seperti gandum dan kedelai terjadi dan berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan pemantauan melalui Trading Economics, harga kedelai tercatat naik menjadi US$ 11,55 per bushel, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, harga gandum naik ke level US$ 5,8 per bushel, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Gunawan menyebut kedelai dan gandum merupakan bahan baku penting bagi kebutuhan pangan di dalam negeri, mulai dari pakan ternak hingga produk olahan seperti tempe, tahu, dan roti. Ia menilai kenaikan harga global berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.
Ia menilai konflik di Timur Tengah membawa komplikasi yang kompleks bagi pengendalian inflasi ke depan. Dalam jangka pendek, pasar global dinilai berpotensi mengalami guncangan pada sejumlah kebutuhan pangan utama dunia.
Gunawan juga menyoroti efek berantai dari kenaikan harga minyak dunia yang dinilainya memiliki dampak pengganda besar terhadap pembentukan harga BBM di dalam negeri. Karena itu, ia menekankan pentingnya mitigasi kebijakan melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Dari sisi fiskal, pemerintah dinilai perlu mengatur ulang belanja agar APBN lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Sementara dari sisi moneter, stabilitas nilai tukar rupiah disebut menjadi kunci untuk menahan tekanan inflasi.
Menurutnya, inflasi yang dipicu konflik global memang sulit dihindari. Namun, upaya menekan dampaknya seminimal mungkin dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat.

