Kremlin menegaskan Rusia akan terus menempuh berbagai cara yang tersedia untuk mencairkan aset-asetnya yang dibekukan di Eropa. Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Kamis (22/1/2026).
“Kami akan melanjutkan berjuang dalam kondisi apa pun dan akan membela hak-hak kami. Kami akan terus menggunakan semua cara yang memungkinkan untuk memastikan aset-aset ini dapat dicairkan,” kata Peskov kepada wartawan.
Sebelumnya, pada Rabu (21/5/2026), Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia siap mengalokasikan dana sebesar 1 miliar dollar AS dari aset yang sebelumnya dibekukan untuk Dewan Perdamaian. Menurut Peskov, pengalokasian dana tersebut akan memerlukan sejumlah tindakan dari Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa rincian aspek hukumnya masih perlu diklarifikasi.
Peskov juga menekankan bahwa kesiapan Rusia mengalokasikan dana 1 miliar dollar AS untuk tujuan kemanusiaan dalam kerangka Dewan Perdamaian tidak berarti Moskwa kehilangan harapan untuk memulihkan aset-asetnya yang dibekukan.
Selain itu, Peskov mengatakan Putin akan membahas isu tersebut dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pertemuan mereka pada Kamis.
Di sisi lain, Dewan Uni Eropa pada 12 Desember lalu memutuskan menerapkan larangan sementara terhadap setiap pemindahan aset milik bank sentral Rusia yang dibekukan di dalam blok tersebut kembali ke Rusia. Keputusan itu diambil dengan alasan konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.
Dalam pernyataannya, Dewan Uni Eropa menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan mendesak untuk membatasi kerugian pada ekonomi Uni Eropa. Aturan itu melarang pemindahan aset atau cadangan bank sentral Rusia secara langsung maupun tidak langsung, termasuk transaksi yang melibatkan badan hukum, entitas, atau lembaga yang bertindak atas nama atau atas arahan bank sentral Rusia.
Langkah tersebut membekukan aset yang diperkirakan bernilai sekitar 210 miliar euro. Sebagian besar aset itu, sekitar 190 miliar euro, disimpan di Euroclear, perusahaan jasa keuangan yang berbasis di Belgia.

