BERITA TERKINI
Krisis Pasokan Avtur, Maskapai Eropa Pangkas Ribuan Penerbangan

Krisis Pasokan Avtur, Maskapai Eropa Pangkas Ribuan Penerbangan

BERLIN — Pemerintah dan industri penerbangan di Eropa menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas transportasi udara di tengah krisis pasokan bahan bakar pesawat (avtur) yang dipicu gangguan geopolitik di Timur Tengah. Situasi memburuk seiring konflik di Iran dan penutupan jalur strategis Selat Hormuz.

Sejumlah maskapai mulai menempuh langkah darurat dengan memangkas ribuan jadwal penerbangan. Kebijakan ini muncul setelah harga avtur dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat sejak eskalasi konflik Iran–Amerika Serikat, yang berdampak pada biaya operasional maskapai dan memunculkan kekhawatiran gangguan besar menjelang musim perjalanan liburan musim panas.

Maskapai terbesar Jerman, Lufthansa, pada Selasa (21/04/2026) mengumumkan pemangkasan sekitar 20.000 penerbangan yang dijadwalkan berlangsung antara Mei hingga Oktober. Langkah tersebut disebut sebagai upaya menyesuaikan beban operasional dan efisiensi penggunaan bahan bakar di tengah tekanan biaya energi global.

Maskapai asal Belanda, KLM, juga mengambil langkah serupa dengan membatalkan sekitar 160 penerbangan pada Mei. Penyesuaian jadwal turut dilakukan sejumlah maskapai lain di Eropa dan Asia-Pasifik sebagai antisipasi terhadap krisis pasokan.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa cadangan bahan bakar pesawat di Eropa berada pada tingkat kritis dan disebut hanya cukup untuk sekitar enam minggu ke depan. Sementara itu, Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menilai situasi telah bergeser dari sekadar lonjakan harga menjadi ancaman krisis pasokan energi yang lebih luas.

Merespons kondisi tersebut, sejumlah negara anggota Uni Eropa mulai menjajaki skema berbagi stok bahan bakar untuk menjaga keberlangsungan sektor transportasi udara. Upaya ini diposisikan sebagai bagian dari strategi darurat guna mencegah gangguan lebih lanjut pada jaringan penerbangan intra-Eropa.

Gangguan pasokan energi global dinilai semakin berat akibat penutupan Selat Hormuz, salah satu rute utama distribusi energi dunia. Ketergantungan Eropa terhadap impor bahan baku avtur dari Timur Tengah membuat sektor penerbangan di kawasan itu berada dalam posisi rentan.

Kondisi diperkirakan berlanjut jika ketegangan geopolitik tidak mereda. Dampaknya berpotensi berupa pembatalan penerbangan lanjutan serta kenaikan harga tiket pada berbagai rute internasional.