Indonesia dinilai memiliki ketahanan tinggi di tengah ketidakpastian energi global. Dalam laporan terbaru JP Morgan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia menempati peringkat kedua dunia sebagai negara yang paling terlindungi dari gejolak energi, terutama minyak dan gas.
Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi final terbesar di dunia yang secara kolektif mewakili 82% konsumsi energi global. Dari pemetaan itu, Indonesia masuk kelompok negara dengan tingkat perlindungan energi tertinggi dan berada tepat di bawah Afrika Selatan.
JP Morgan mengukur ketahanan tersebut melalui indikator total insulation factor, yakni kombinasi ketersediaan sumber energi domestik—mulai dari gas, batu bara, energi terbarukan, hingga nuklir—yang dinilai mampu melindungi suatu negara dari fluktuasi pasar energi global. Dalam konteks ini, Indonesia disebut memiliki fondasi yang kuat.
Salah satu faktor utama yang disorot adalah besarnya produksi batu bara domestik. Indonesia dinilai diuntungkan oleh kapasitas produksi batu bara yang besar serta posisinya sebagai salah satu eksportir batu bara termal terbesar di dunia. “Negara seperti China, India, Indonesia, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina mendapat manfaat dari produksi batu bara domestik yang signifikan selama terjadi guncangan energi,” tulis JP Morgan dalam laporannya, Rabu (22/4).
Selain batu bara, Indonesia juga tercatat sebagai produsen gas alam penting. Pada 2024, Indonesia berada di peringkat ke-13 produsen gas alam dunia, dengan produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik.
Di sisi lain, JP Morgan mencatat sejumlah negara maju justru berada dalam posisi paling rentan terhadap gejolak energi, antara lain Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda. Tingginya ketergantungan pada impor minyak dan gas disebut menjadi faktor utama kerentanan, terlebih dengan ketidakpastian jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya diversifikasi energi sebagai strategi menghadapi tekanan global. Selain Indonesia, negara seperti India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina juga disebut memperoleh keuntungan dari struktur energi domestik mereka. Sementara itu, negara dengan bauran energi terbarukan yang tinggi seperti Brasil, Austria, dan Portugal juga dinilai memiliki tingkat perlindungan yang baik.
JP Morgan turut menilai transisi energi sebagai faktor kunci untuk menekan risiko jangka panjang. Penggunaan kendaraan listrik serta pengembangan energi terbarukan disebut sebagai langkah paling efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan gas di masa depan.