KUALA LUMPUR — Pemerintah Malaysia membuka opsi baru untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah krisis energi global dengan menjajaki pembelian minyak dari Rusia melalui perusahaan energi nasional, Petroliam Nasional Berhad (Petronas).
Langkah ini muncul ketika kawasan Asia Tenggara menghadapi tekanan pasokan energi akibat konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang dalam beberapa pekan terakhir mengganggu rantai pasok minyak global.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Petronas akan melakukan negosiasi dengan pihak Rusia untuk mengamankan pasokan minyak bagi kebutuhan domestik. Ia menekankan bahwa hubungan bilateral Malaysia dengan Rusia masih terjaga dengan baik sehingga membuka ruang kerja sama di sektor energi.
“Beruntung, hubungan kita dengan Rusia tetap baik. Oleh karena itu, tim Petronas dapat bernegosiasi dengan mereka,” ujar Anwar, dikutip dari Channel News Asia, Senin (20/4/2026).
Penjajakan tersebut menempatkan Malaysia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mulai melirik minyak Rusia sebagai alternatif pasokan di tengah situasi energi yang tidak menentu.
Krisis energi saat ini disebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang meluas dan berdampak pada distribusi minyak dunia. Perang tersebut dilaporkan menewaskan ribuan orang, meluas hingga serangan Israel di Lebanon, serta mendorong lonjakan harga minyak menyusul penutupan de facto Selat Hormuz—jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.
Kondisi di Selat Hormuz juga dilaporkan terus berubah. Iran sempat mengumumkan pembukaan sementara selat tersebut, namun kembali menutupnya sehari kemudian dengan alasan merespons blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran yang dianggap melanggar gencatan senjata.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyatakan angkatan laut Iran siap memberikan “kekalahan pahit baru” kepada musuhnya, yang menambah ketidakpastian terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di dalam negeri, Petronas memegang peran sentral dalam menjaga pasokan energi Malaysia di tengah gejolak tersebut. Perusahaan itu menyatakan ketersediaan bahan bakar di jaringan ritel nasional tetap aman hingga akhir Juni 2026, memperpanjang proyeksi sebelumnya selama satu bulan.