BERITA TERKINI
Menag Terima Dubes Yaman, Bahas Situasi Keamanan dan Perlindungan Pelajar Indonesia

Menag Terima Dubes Yaman, Bahas Situasi Keamanan dan Perlindungan Pelajar Indonesia

Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan Duta Besar Republik Yaman untuk Indonesia, H.E. Mr. Saleh Ahmed Balfakeeh, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (12/1/2026). Pertemuan tersebut membahas perkembangan situasi di Yaman, penguatan hubungan bilateral, serta perlindungan pendidikan bagi lebih dari 7.000 pelajar Indonesia yang menempuh studi di negara itu.

Dalam pertemuan itu, Dubes Balfakeeh menyampaikan salam dari Menteri Wakaf Yaman dan memaparkan kondisi keamanan serta politik di sejumlah wilayah strategis, seperti Hadhramout, Mahrah, dan Aden. Ia menjelaskan bahwa Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman telah menetapkan keadaan darurat dan melakukan konsolidasi ulang koalisi Arab untuk menjaga stabilitas nasional.

“Pemerintah Yaman mengambil langkah-langkah khusus untuk memastikan stabilitas kawasan dan efektivitas koordinasi regional,” ujar Balfakeeh. Ia menambahkan, langkah tersebut tidak mempengaruhi hubungan baik Yaman dengan Uni Emirat Arab dan disebut sebagai bagian dari penataan ulang kerja sama regional.

Balfakeeh juga menyinggung dialog selatan–selatan yang digagas Presiden Dewan Kepemimpinan Presiden Rashad Al-Alimi dan disponsori Arab Saudi. Menurutnya, dialog itu ditempuh sebagai jalur damai untuk menjaga stabilitas sekaligus merawat proses perdamaian di Yaman. “Dialog ini merupakan upaya damai kami untuk menjaga stabilitas dan merawat proses perdamaian di Yaman,” katanya.

Selain membahas dinamika keamanan, Dubes Balfakeeh mengapresiasi dukungan Pemerintah Indonesia terhadap pemerintahan Yaman yang sah, termasuk sikap resmi Kementerian Luar Negeri RI terkait perkembangan di negara tersebut. Ia juga menekankan hubungan historis kedua bangsa, terutama peran tokoh-tokoh keturunan Yaman dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Sebagai duta besar yang baru bertugas, Balfakeeh menyampaikan agenda penguatan kerja sama, termasuk rencana mengaktifkan kembali komite bersama di bidang investasi, perdagangan, dan ekonomi. Ia juga menyebut rencana kunjungan Menteri Luar Negeri Yaman ke Indonesia, serta keinginan Menteri Wakaf Yaman untuk mempererat kemitraan dengan Kementerian Agama RI.

Isu utama lain yang dibahas adalah keberadaan lebih dari 7.000 pelajar Indonesia di Yaman. Balfakeeh mengusulkan pembentukan mekanisme khusus terkait pendaftaran dan penempatan pelajar Indonesia di lembaga pendidikan Yaman yang diakui pemerintah. “Kami berharap ada sistem bersama agar pelajar Indonesia diarahkan ke institusi pendidikan yang moderat, kredibel, dan resmi. Ini penting untuk mencegah mereka terpapar paham radikal,” tegasnya.

Menanggapi usulan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan dukungan terhadap penguatan kerja sama pendidikan yang berorientasi pada moderasi beragama. Ia menekankan bahwa perlindungan pelajar Indonesia di luar negeri, terutama di wilayah dengan dinamika keamanan tinggi, merupakan bagian dari tanggung jawab negara. “Kami sangat terbuka untuk memperkuat kerja sama pendidikan yang menumbuhkan moderasi, kedamaian, dan persaudaraan. Ini penting bagi masa depan pelajar kita dan bagi harmoni kehidupan beragama di Indonesia,” ujar Nasaruddin.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama bilateral Indonesia–Yaman, khususnya di bidang pendidikan keagamaan, diplomasi moderasi beragama, serta kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan melalui pendekatan damai dan dialog.