Memanasnya geopolitik di kawasan pemasok energi dinilai berpotensi memicu krisis energi global yang dampaknya dapat merembet hingga Indonesia. Kekhawatiran publik terhadap masa depan pasokan energi menguat seiring potensi terganggunya distribusi minyak dunia.
Pakar strategi bisnis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Ir. Arman Hakim Nasution, MEng, menyebut konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu utama meningkatnya kegelisahan global. Ia menyoroti jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik vital perdagangan minyak dunia dan berisiko mengalami gangguan.
“Jika distribusi terganggu, harga BBM bisa melonjak tajam. Ini bukan hanya ancaman energi, tapi juga ekonomi global,” ujar Arman, Kamis (23/4/2026).
Menurut Arman, krisis energi tidak hanya berdampak pada ketersediaan bahan bakar, tetapi juga memunculkan efek domino ke berbagai sektor. Kenaikan harga BBM, kata dia, dapat memengaruhi biaya produksi dan harga di sektor lain, termasuk industri plastik dan pupuk.
“Ekonomi itu saling terhubung. Ketika energi terguncang, sektor lain pasti ikut terdampak,” jelasnya.
Ia menilai Indonesia masih berada dalam posisi rentan karena ketergantungan pada impor energi. Sekitar 49,5 persen kebutuhan BBM nasional serta 80–84 persen LPG masih dipenuhi dari impor. Ketidakseimbangan antara kebutuhan yang tinggi dan produksi dalam negeri disebut menjadi akar persoalan.
“Kondisi ini berbahaya, apalagi di tengah geopolitik yang tidak stabil. Ketergantungan ini bisa memicu tekanan ekonomi hingga sosial,” tegas Arman.
Arman juga menyoroti persoalan mendasar yang ia nilai menjadi kelemahan Indonesia, yakni kemampuan pengolahan energi yang belum memadai. Ia menekankan bahwa masalahnya bukan semata ketersediaan sumber daya, melainkan pemanfaatan yang belum optimal. Ia mengingatkan Indonesia memiliki potensi besar, termasuk sebagai produsen energi panas bumi (geothermal) terbesar kedua di dunia.
“Sumber daya kita melimpah, tapi belum dimanfaatkan optimal. Ini yang harus segera dibenahi,” katanya.
Untuk menuju kemandirian energi, Arman mendorong langkah konkret dengan memaksimalkan potensi energi berbasis kearifan lokal di tiap daerah. Ia mencontohkan wilayah dengan paparan panas tinggi dapat mengembangkan energi surya, sementara daerah peternakan dapat memanfaatkan limbah menjadi biogas.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Masyarakat didorong untuk hemat energi, industri diminta berinovasi, dan pemerintah diharapkan menghadirkan kebijakan yang mendukung kemandirian energi.
“Kalau tidak dimulai sekarang, kita akan terus bergantung. Ini bukan hanya soal energi, tapi kedaulatan bangsa,” tandasnya.
Arman menyebut komitmen tersebut sejalan dengan peran ITS dalam mendukung target global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait energi bersih dan terjangkau serta penguatan industri dan inovasi.