Kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai berpotensi meningkatkan eskalasi konflik global sepanjang 2026. Sejumlah pengamat melihat pendekatan unilateral dan agresif Washington sebagai cerminan strategi geopolitik lama Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasinya di tengah perubahan tatanan dunia.
Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Kajian Keamanan Dunia (PKKD), Adi Rio Arianto, menilai langkah Amerika Serikat terhadap beberapa kawasan strategis tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi besar menjaga status quo kekuatan global.
“Kalau kita melihat isu Greenland, Venezuela, hingga Iran, semuanya berada dalam satu kerangka geopolitik Amerika Serikat untuk mempertahankan pengaruhnya. Ini sangat kental dengan semangat Doktrin Monroe,” ujar Adi dalam wawancara Radio Elshinta edisi pagi, Kamis (15/1/2026) bersama news anchor Suwiryo.
Menurut Adi, kebijakan Trump juga sarat kepentingan politik domestik. Retorika “America First” dipandang sebagai cara menjaga dukungan publik di dalam negeri, sekaligus mengirim sinyal tegas kepada kekuatan global lain seperti Tiongkok dan Rusia.
“Trump bermain di dua level sekaligus, domestik dan internasional. Di satu sisi ingin terlihat kuat di mata publik Amerika, di sisi lain berusaha menekan kekuatan baru yang dianggap mengancam dominasi Amerika Serikat,” katanya.
Adi juga menyoroti lemahnya penegakan hukum internasional dalam menghadapi tindakan sepihak negara adidaya. Ia menilai, meski secara normatif berbagai intervensi dapat dikategorikan melanggar hukum internasional, realitas politik global membuat sanksi sulit diterapkan.
“Hukum internasional hari ini masih sangat ditentukan oleh kekuasaan. Selama Amerika Serikat memiliki hak veto dan pengaruh besar, pelanggaran itu sering kali tidak berujung pada konsekuensi nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, penolakan dari negara-negara Eropa terkait isu Greenland dinilai menjadi sinyal awal retaknya solidaritas Barat. Situasi tersebut disebut berpotensi melemahkan NATO dan mempercepat pergeseran dari tatanan Pax Americana menuju dunia multipolar.
Dalam pandangannya, Iran menjadi titik paling rawan memicu konflik besar. “Kalau Iran diserang lebih dulu, itu bisa membuka pintu eskalasi luas karena Iran punya legitimasi untuk membalas. Dampaknya bisa jauh lebih besar dibandingkan konflik di Venezuela,” kata Adi.
Terkait posisi Indonesia, Adi menilai negara ini relatif aman selama konsisten menjalankan politik perimbangan dan prinsip bebas aktif. “Indonesia relatif aman selama konsisten pada politik perimbangan dan bebas aktif. Kita tidak diposisikan sebagai ancaman, justru sebagai mitra strategis di kawasan,” pungkasnya.

