BERITA TERKINI
Pasar Keuangan Global Bergejolak, Investor Waspadai Eskalasi Konflik Timur Tengah

Pasar Keuangan Global Bergejolak, Investor Waspadai Eskalasi Konflik Timur Tengah

Pasar keuangan global bergerak fluktuatif pada awal pekan ini seiring meningkatnya konflik militer di Timur Tengah. Kekhawatiran investor bahwa ketegangan dapat berlangsung selama berminggu-minggu dan mengganggu pemulihan mendorong aksi jual di pasar saham, peralihan dana ke aset aman, serta perubahan tajam di pasar energi.

Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara Iran membalas dengan meluncurkan rudal di berbagai wilayah. Risiko meluasnya konflik ke negara-negara tetangga ikut memperkuat sikap berhati-hati pelaku pasar.

Di Asia, indeks Nikkei Jepang turun 1,3% dengan saham maskapai penerbangan menjadi yang paling terpukul. Indeks CSI300 China melemah tipis 0,1%, sedangkan indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,2%.

Di kawasan Timur Tengah, Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait menutup sementara pasar saham mereka dengan alasan “keadaan luar biasa.” Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 turun 1,3%, DAX melemah 1,4%, dan FTSE turun 0,6%. Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,8%, mencerminkan meningkatnya sentimen defensif investor.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian pasar pekan ini juga tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk survei manufaktur ISM, penjualan ritel, dan terutama laporan pekerjaan. Data tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kepercayaan terhadap kondisi ekonomi setelah kuartal keempat, sekaligus mengubah ekspektasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 50% bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan pada Juni, dengan total pemotongan sekitar 58 basis poin sepanjang tahun ini.

Pergerakan terbesar terjadi di pasar energi. Minyak mentah Brent melonjak 6,4% menjadi US$77,57 per barel setelah sempat melampaui US$82 per barel. Minyak mentah AS naik 6,2% menjadi US$71,17 per barel. Kenaikan harga energi ini turut meningkatkan risiko inflasi.

Di sisi aset aman, emas naik 1,6% menjadi US$5.360 per ons.

Investor juga memantau Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima minyak bumi yang diangkut melalui laut serta 20% gas alam cair (LNG) dunia. Meski selat tersebut belum diblokir, situs pelacakan maritim menunjukkan kapal tanker minyak menumpuk di kedua ujung selat di tengah kekhawatiran serangan atau terbatasnya cakupan asuransi.

Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, menyebut dampak paling langsung dan jelas terhadap pasar minyak adalah hampir terhentinya lalu lintas melalui Selat Hormuz, yang dapat mencegah 15 juta barel minyak per hari mencapai pasar. Ia menilai, tanpa tanda-tanda perbaikan dalam waktu dekat, harga minyak berpotensi bergerak jauh lebih tinggi.

Di sisi pasokan, OPEC+ pada Minggu sepakat menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk April. Namun, sebagian besar pasokan itu tetap harus diangkut melalui laut dari Timur Tengah, sehingga risiko gangguan logistik dinilai masih ada.

Wakil Presiden Senior Bidang Pemurnian dan Pasar Minyak Wood Mackenzie, Alan Gelder, menyinggung preseden historis embargo minyak Timur Tengah pada 1970-an ketika harga minyak melonjak 300% menjadi sekitar US$12 per barel pada 1974, atau setara sekitar US$90 per barel dalam nilai tahun 2026. Dengan kekhawatiran pasar saat ini mengenai potensi gangguan pasokan yang parah, ia menilai peluang harga melampaui level tersebut sangat mungkin terjadi.