BERITA TERKINI
Pasar Modal Indonesia Diproyeksi Bergerak Hati-hati pada 2026, Asia Pasifik Dinilai Lebih Menjanjikan

Pasar Modal Indonesia Diproyeksi Bergerak Hati-hati pada 2026, Asia Pasifik Dinilai Lebih Menjanjikan

JAKARTA — Prospek pasar modal Indonesia pada 2026 diperkirakan masih bergerak hati-hati di tengah dinamika global dan domestik. Meski stabilitas ekonomi nasional dinilai tetap terjaga, ketidakpastian geopolitik dan tantangan struktural di dalam negeri membuat sentimen investor belum sepenuhnya pulih.

Memasuki 2026, sebagian investor pasar saham Indonesia masih menanti momentum kebangkitan yang sebelumnya diharapkan muncul seiring pemulihan pertumbuhan ekonomi. Namun, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya terwujud, terutama karena eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan berbagai tantangan domestik yang membuat pasar keuangan bergerak lebih defensif.

Di sisi lain, sejumlah pasar saham di kawasan Asia Pasifik justru menunjukkan kinerja lebih kuat sepanjang 2025. Tren ini diperkirakan berlanjut pada 2026, seiring diversifikasi investor global dari pasar negara maju seperti Amerika Serikat serta dorongan dari siklus teknologi, khususnya yang terkait perkembangan kecerdasan buatan.

Chief Investment Officer Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma mengatakan indikator makroekonomi Indonesia menunjukkan landasan yang relatif solid. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi kembali berada di kisaran 5 persen dan inflasi masih terkendali. Namun, ia menilai faktor eksekusi pembangunan dan ketidakpastian eksternal masih menjadi hambatan utama bagi sentimen pasar.

Samuel juga menekankan stabilitas ekonomi tidak selalu berarti pasar modal akan bergerak agresif atau menawarkan peluang investasi yang memadai bagi investor domestik. Menurut dia, volatilitas arus modal internasional dan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya tensi geopolitik, membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati.

Dalam skenario yang lebih optimistis sekalipun, sejumlah lembaga riset disebut memperkirakan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap moderat dan bergantung pada kebijakan pemerintah, stimulus fiskal, serta efektivitas implementasi program ekonomi. Dengan kondisi itu, Samuel menilai wajar apabila banyak investor merasa peluang di pasar domestik belum terlalu menggembirakan.

Ia menyoroti saham-saham domestik yang masih bergerak dalam rentang terbatas, pasar obligasi yang menghadapi tekanan dari kebutuhan pembiayaan fiskal yang meningkat, serta rupiah yang dinilai tetap rentan terhadap tekanan eksternal. Kombinasi faktor tersebut mendorong sebagian investor mempertimbangkan diversifikasi geografis ke kawasan yang dipandang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.

Senior Portfolio Manager Asia Pacific Equities Manulife Investment Management Marco Giubin menilai kawasan Asia Pasifik memasuki 2026 dengan momentum yang lebih optimistis. Menurut dia, sejumlah negara di kawasan itu bersiap memasuki fase ekspansi ekonomi yang didukung pemulihan manufaktur, peningkatan belanja konsumen, serta percepatan transformasi digital.

Marco merujuk data Dana Moneter Internasional (IMF) yang menunjukkan kawasan Emerging and Developing Asia diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang resilien pada 2026, dengan potensi sekitar 5 persen. Ia juga menyebut sinyal positif dari aktivitas pasar modal, termasuk proyeksi sejumlah bursa saham Asia Pasifik yang berpeluang mencetak rekor baru pada 2026, ditopang pipeline penawaran umum perdana (IPO) yang kuat, transaksi besar, dan aktivitas pendanaan ekuitas.

Menurut Marco, kondisi tersebut mencerminkan fase ekspansi bisnis yang menarik bagi investor global. Ia menyebut Korea Selatan dan Taiwan memimpin inovasi teknologi, sementara India dan sejumlah negara Asia Tenggara memperluas pasar domestik. Selain itu, tren relokasi manufaktur, diversifikasi rantai pasok global, serta meningkatnya kebutuhan teknologi turut mendorong aliran investasi ke kawasan.

China, meski menghadapi perlambatan struktural, dinilai masih berperan sebagai penggerak penting dalam ekosistem industri regional. Negara-negara lain yang memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global juga disebut menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat. Marco menambahkan, prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia berpotensi meningkatkan likuiditas global dan mendorong minat investasi ke Asia Pasifik sepanjang 2026.

Dari sisi sektoral, Marco menilai sejumlah bidang di Asia Pasifik memiliki prospek menarik. Ia menyoroti teknologi semikonduktor yang didorong permintaan global terkait kecerdasan buatan, infrastruktur digital, dan perangkat pintar, dengan Korea Selatan dan Taiwan yang terus memperluas kapasitas teknologi. Ia juga menyebut inovasi kesehatan dan bioteknologi yang berkembang pesat di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, seiring meningkatnya investasi dan riset pascapandemi.

Pertumbuhan kelas menengah di India dan Asia Tenggara diperkirakan turut meningkatkan daya beli, sehingga membuka peluang pada sektor ritel, gaya hidup, dan jasa keuangan. Selain itu, Asia Pasifik dinilai terus mempercepat pengembangan energi terbarukan dan infrastruktur hijau, termasuk transisi energi, penggunaan panel surya, hingga pengembangan kendaraan listrik.

Head of Investment Specialist MAMI Freddy Tedja menyatakan bahwa di tengah pergerakan pasar Indonesia yang masih terbatas, strategi diversifikasi lintas negara menjadi semakin relevan. Menurut dia, investor tidak hanya mempertimbangkan sektor atau jenis aset, tetapi juga faktor geografi sebagai sumber potensi pertumbuhan.

Freddy mengingatkan, investasi langsung di saham luar negeri tidak selalu mudah bagi investor ritel karena perlu mempertimbangkan aksesibilitas, likuiditas, regulasi, biaya transaksi, dan fluktuasi mata uang. Ia menyebut reksa dana global dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh akses ke pasar internasional secara lebih terdiversifikasi, termasuk produk yang memberikan eksposur ke saham syariah di Asia Pasifik seperti Reksa Dana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF).

Freddy mengatakan produk tersebut menawarkan diversifikasi lintas negara dan menggunakan denominasi dollar AS yang dinilai dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap volatilitas rupiah. Marco, yang juga bertindak sebagai advisor dalam pengelolaan MANSYAF, menambahkan bahwa koreksi pasar yang terjadi saat ini diharapkan bersifat sementara, dengan fundamental perusahaan yang dinilai cukup kuat.

Per Desember 2025, perusahaan disebut mengelola dana sebesar Rp124,3 triliun, terdiri dari dana kelolaan reksa dana Rp63 triliun serta kontrak pengelolaan dana Rp61 triliun.