VATIKAN — Paus Leo XIV mengecam penggunaan kekuatan militer sebagai alat untuk mencapai tujuan diplomatik negara-negara. Ia juga menyatakan keprihatinan mendalam atas lemahnya organisasi internasional dalam merespons berbagai konflik global yang terus bergejolak.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato “State of World” di hadapan para diplomat Takhta Suci pada Jumat (9/1) di Hall of Benediction, Apostolic Palace, Vatikan. Dalam pidato awal tahun pertamanya sejak terpilih, Paus yang berasal dari Amerika itu menyoroti pergeseran pendekatan diplomasi.
“Perang kembali menjadi tren dan semangat untuk berperang semakin menyebar,” ujar Paus Leo XIV. Ia menilai pendekatan dialog kian tergeser oleh penggunaan kekuatan dan intimidasi.
Pidato yang disampaikan dalam bahasa Inggris tersebut menekankan pentingnya “diplomasi harapan” di tengah krisis global. Paus juga menyinggung sejumlah persoalan yang dinilainya mendesak, mulai dari konflik bersenjata, ketidakadilan yang meluas, ancaman terorisme, hingga pembatasan kebebasan beragama di berbagai wilayah.
Paus Leo XIV menyerukan penghentian segera konflik di sejumlah kawasan, termasuk Ukraina, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Ia juga menyinggung situasi di kawasan Karibia dan Venezuela yang disebutnya sangat memprihatinkan.
“Saya mengulangi permohonan mendesak agar solusi politik damai terus diupayakan,” tegasnya. Ia menekankan agar setiap solusi mengutamakan kepentingan bersama, bukan kepentingan partisan, terutama terkait perkembangan terkini di Venezuela. Paus turut menyerukan penghormatan terhadap kehendak rakyat serta perlindungan hak asasi dan hak sipil di negara tersebut.
Dalam pidato itu, Paus Leo XIV juga menyoroti tanda-tanda meningkatnya ketegangan di Asia Timur, yang dipicu sengketa teritorial, program nuklir Korea Utara, dan persaingan strategis global. Ia menyatakan harapan agar semua pihak mengedepankan pendekatan damai dan dialog dalam menyelesaikan sengketa.
Krisis kemanusiaan di Myanmar turut menjadi perhatian. “Pikiran saya tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah di Myanmar,” katanya, seraya menyerukan keberanian untuk memilih jalan dialog dan perdamaian yang inklusif. “Perdamaian sulit namun realistis, membutuhkan kerendahan hati dan keberanian,” imbuhnya.
Takhta Suci, yang memiliki hubungan diplomatik dengan 185 negara dan organisasi internasional, juga menilai situasi di Ukraina semakin tragis. Pertumpahan darah yang berkelanjutan disebut terus menimbulkan korban sipil, baik secara materiil maupun non-materiil, dan menambah daftar krisis yang membutuhkan perhatian serius komunitas internasional.

