BERITA TERKINI
Pemerintah Siapkan Mitigasi Gangguan Pasokan Minyak Global di Tengah Konflik Timur Tengah

Pemerintah Siapkan Mitigasi Gangguan Pasokan Minyak Global di Tengah Konflik Timur Tengah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sesi diskusi ekonomi pada Indonesia Economic Forum 2026, Senin (2/3).

Airlangga menyebut pemerintah belajar dari krisis energi pascaperang Rusia-Ukraina, ketika harga komoditas melonjak. Menurut dia, pengalaman tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan strategi menghadapi potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

“Kita berpengalaman pada saat perang Ukraine juga harga komoditas naik tinggi. Demikian pula tergantung dari berapa lama kondisi timur-tengah bisa terjaga,” ujar Airlangga.

Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi minyak global, terutama Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Indonesia berstatus net importir minyak, sehingga lonjakan harga global berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca migas.

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menyinggung perjanjian Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 19 Februari. Ia mengatakan salah satu poin kesepakatan tersebut berkaitan dengan pengalihan sumber impor energi dari Amerika Serikat.

Namun, Airlangga menegaskan pengalihan itu bukan berarti menambah volume impor, melainkan untuk menyeimbangkan neraca dagang kedua negara. “Kalau tidak ada rencana pembelian dari Amerika, surplus kita bisa mencapai sekitar US$19 miliar. Karena itu arahan Presiden agar imbalance trade ini dibalance,” katanya.

Airlangga menjelaskan Indonesia selama ini mengimpor energi sekitar US$15 miliar per tahun, termasuk minyak mentah dan BBM. Dalam konteks ART, sebagian pembelian tersebut dialihkan ke Amerika Serikat, termasuk minyak yang Washington dapat dari Venezuela.

Ia menilai langkah tersebut juga menjadi strategi mitigasi apabila konflik Timur Tengah berkepanjangan dan mengganggu jalur distribusi minyak dari kawasan tersebut. “Ini kalau dengan situasi yang memanas di Timur Tengah. Nah ini transportasi maupun biaya kapalnya itu kan akan naik, tetapi kalau kita ambil yang dari Amerika atau sekarang turunannya Venezuela itu tidak terganggu oleh perang yang di wilayah Timur (Tengah),” ujar Airlangga.

“Kalau kita ambil dari wilayah barat, relatif tidak terganggu oleh konflik di Timur Tengah,” lanjutnya.

Airlangga menegaskan kebijakan itu bersifat komersial dan merupakan bagian dari diversifikasi pasokan energi nasional, bukan penambahan ketergantungan baru. Pemerintah saat ini menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen tahun ini. Ia mengakui konflik global berpotensi memberi tekanan, tetapi menilai fundamental domestik masih cukup kuat untuk menyerap guncangan.

“Ya kita monitor aja dulu, kita monitor. Dan relatif dari segi supply minyak masih terjaga,” pungkasnya.