BERITA TERKINI
Pemerintah Tempuh Diplomasi Usai Dua Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz

Pemerintah Tempuh Diplomasi Usai Dua Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz

Pemerintah merespons tertahannya dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) di Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan jalur diplomasi ditempuh agar kapal-kapal tersebut dapat segera keluar dari wilayah tersebut.

“Kami sedang melakukan upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk kapal-kapal tersebut bisa dikeluarkan,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026). Ia menambahkan pemerintah bersama Pertamina mengupayakan langkah terbaik untuk menjamin keselamatan kapal dan awaknya.

Di sisi lain, Kementerian ESDM menegaskan telah menyiapkan opsi pasokan minyak mentah dari sumber lain sebagai langkah antisipasi. Jika skenario terburuk terjadi dan kapal tidak dapat melintas, pemerintah memastikan impor crude oil tetap berjalan melalui jalur alternatif.

Menurut Bahlil, mitigasi diperlukan untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pemerintah menilai situasi tersebut bukan ancaman kritis, namun tetap harus diantisipasi secara serius.

Secara terpisah, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan perusahaan terus berkoordinasi dengan otoritas maritim dan pengelola kapal untuk memastikan keselamatan kru serta keamanan aset.

Sebelumnya, terdapat empat tanker milik PIS di kawasan Timur Tengah. Dua kapal telah berada di luar area Teluk Persia, sementara dua lainnya masih berada di dalam kawasan tersebut. Empat kapal itu adalah Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak; Pertamina Pride yang sedang melakukan proses muat di Ras Tanura; PIS Rinjani yang lego jangkar di Khor Fakkan; serta PIS Paragon di Oman. Dua kapal yang masih berada di area teluk adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro.

PIS juga menyatakan 30 pekerja beserta keluarga di kantor cabang Dubai melalui PIS Middle East dalam kondisi aman. Perusahaan menyebut terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia setempat.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi salah satu titik penting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintasi perairan sempit tersebut.

Ketegangan terbaru disebut membuat puluhan kapal tanker memilih menunggu di Teluk Persia. Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya 40 very large crude carrier (VLCC), masing-masing bermuatan sekitar 2 juta barel, tertahan sambil menanti kepastian keamanan jalur pelayaran.

Lonjakan risiko itu turut mendorong kenaikan harga minyak mentah global. West Texas Intermediate (WTI) naik di atas US$75 per barel setelah reli dua hari sebesar 11 persen—kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir. Sementara Brent ditutup mendekati US$81 per barel.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan US International Development Finance Corporation (DFC) akan menawarkan skema asuransi bagi kapal untuk menjamin kelancaran arus energi dan perdagangan, termasuk opsi pengawalan angkatan laut jika diperlukan.