Kondisi laut yang terlalu tenang disebut dapat mempercepat kerusakan terumbu karang Great Barrier Reef di Australia. Fenomena ini dikenal sebagai doldrum days, yakni periode ketika laut sangat tenang dan hampir tanpa embusan angin, menurut penelitian Monash University.
Studi terbaru itu menautkan hari-hari laut tenang dengan meningkatnya kejadian pemutihan terumbu karang massal di Great Barrier Reef. “Apabila angin itu berhenti berhembus, suhu lautan akan memanas dengan cepat, dan terumbu karang menderita,” kata Lara Richards, kandidat PhD di Australian Research Council Center of Excellence for the Weather of 21st Century sekaligus pemimpin penelitian bersama Monash University, seperti dikutip dari Xinhua via Antara, Selasa (20/1/2026).
Penelitian tersebut menganalisis data cuaca hampir tiga dekade selama musim pemutihan terumbu karang. Hasilnya menunjukkan hubungan kuat antara jeda panjang angin pasat dengan lonjakan suhu laut. Selama ini, angin pasat berperan penting dalam menjaga suhu perairan tetap stabil.
Dalam kondisi normal, angin pasat berembus secara rutin antara Desember hingga April. Angin ini membantu mendinginkan permukaan laut melalui penguapan dan pergerakan air. Namun, ketika angin melemah atau menghilang, laut kehilangan mekanisme pendinginan alaminya sehingga panas lebih mudah terperangkap di permukaan air. Akibatnya, suhu laut naik lebih cepat dan bertahan lebih lama, terutama pada puncak musim panas.
Para peneliti juga menemukan bahwa ketika gelombang atmosfer planet berskala besar datang, tekanan udara dapat menurun dan mengganggu pola angin pasat. Gangguan ini meningkatkan kemungkinan terbentuknya doldrum days.
Richards menekankan bahwa angin pasat berfungsi layaknya “pendingin” alami bagi terumbu karang. Ketika angin berhenti, suhu lautan dapat meningkat sangat cepat dan karang tidak memiliki waktu cukup untuk beradaptasi. Ia menambahkan, pemahaman terhadap pola cuaca tersebut dapat membantu ilmuwan memprediksi pemutihan karang pada masa depan.
Studi itu juga mencatat pola yang konsisten: tahun-tahun yang mengalami pemutihan karang massal cenderung memiliki lebih banyak hari cerah dan tenang. Pada periode tersebut, jumlah hari dengan angin pasat kuat jauh lebih sedikit, terutama antara Desember dan April. Kondisi ini memungkinkan panas terakumulasi dalam waktu lama, sehingga suhu tinggi tidak hanya muncul lebih awal, tetapi juga bertahan hingga akhir musim panas.
Situasi tersebut dinilai menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya gelombang panas laut, yang disebut sebagai salah satu penyebab utama pemutihan terumbu karang secara luas di Great Barrier Reef.
Profesor Steven Siems dari Sekolah Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Lingkungan Monash University mengatakan fenomena ini tidak bisa diabaikan. Menurutnya, ketika Great Barrier Reef mengalami pemutihan karang massal, periode doldrum terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama. Ia menilai hilangnya proses pendinginan di akhir musim panas dapat mengubah tahun biasa menjadi tahun bencana bagi terumbu karang.
Penelitian yang diterbitkan oleh European Geosciences Union (EGU) itu mendorong pemantauan pola atmosfer yang lebih ketat di Australia. Para peneliti memperingatkan bahwa perubahan iklim terus mengganggu sistem cuaca global, sehingga peran angin pasat dinilai semakin penting untuk perlindungan terumbu karang. Jika gangguan terhadap angin pasat makin sering terjadi, risiko pemutihan massal di Great Barrier Reef disebut akan meningkat.

