Pemerintah Indonesia didorong segera menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik global terhadap perekonomian nasional, terutama terkait perang antara Amerika Serikat dan Iran. Dorongan tersebut disampaikan pengamat ekonomi regional Dr. James Adam pada Senin di Kupang.
Menurut James, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas kementerian serta melakukan pemantauan ekonomi global secara real time agar respons kebijakan dapat diambil cepat dan tepat sasaran. Ia menilai konflik AS-Iran berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan, sektor energi, dan arus keuangan internasional.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan untuk meredam dampak eksternal. Skema kebijakan ekonomi yang adaptif, kata dia, perlu dirumuskan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga dengan menyesuaikan kondisi perekonomian nasional saat ini.
Sejumlah langkah yang dinilai dapat dipertimbangkan meliputi penguatan cadangan energi, pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, serta perlindungan terhadap sektor-sektor produktif yang rentan terdampak. James mengingatkan, perang AS-Iran berpotensi menimbulkan gangguan pada perdagangan internasional.
Ia menjelaskan, perdagangan luar negeri—baik ekspor maupun impor—dapat terganggu akibat tertundanya sistem distribusi barang dan jasa. Selain itu, harga minyak dunia bisa terdampak jika produksi dan distribusi terganggu, yang berpotensi memengaruhi harga minyak di dalam negeri serta rantai pasok lainnya.
James menambahkan, pemerintah perlu memiliki strategi untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga kebutuhan pokok apabila terjadi gangguan pada rantai pasok.

