Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi merupakan langkah yang wajar di tengah krisis energi global. Menurut Fahmy, penyesuaian harga di Indonesia terjadi relatif lebih lambat dibanding sejumlah negara lain seperti Singapura, Malaysia, India, hingga negara-negara di Eropa yang lebih dulu melakukan penyesuaian pada Maret 2026.
“Saya kira sudah tepat. Bahkan ini menjadi koreksi dari kebijakan sebelumnya yang tidak menaikkan harga BBM non-subsidi. Selama ini harga BBM non-subsidi, khususnya RON 92 ke atas, memang ditentukan oleh mekanisme pasar sesuai dengan kondisi ekonomi,” kata Fahmy dalam keterangan resmi, Senin, 20 April 2026.
Fahmy menjelaskan, ketika harga minyak dunia meningkat, harga BBM non-subsidi semestinya ikut naik. Sebaliknya, harga BBM berpotensi turun saat harga minyak global menurun, meski penurunannya tidak selalu berlangsung secara proporsional.
“Ketika pemerintah sebelumnya tidak menaikkan harga BBM non-subsidi, menurut saya itu keputusan yang keliru. Dan sekarang dikoreksi dengan kenaikan pada 18 April ini,” ujar Fahmy.
Di sisi lain, Fahmy menilai kebijakan kenaikan BBM non-subsidi tidak akan berdampak besar terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Alasannya, konsumsi BBM non-subsidi dinilai relatif kecil dan tidak digunakan untuk sektor-sektor vital seperti distribusi kebutuhan pokok maupun kebutuhan industri pabrik.
Pandangan serupa disampaikan pengamat ekonomi Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan. Ia mendukung langkah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi dan tidak menaikkan BBM subsidi, Pertamax, serta Pertamax Green 95.
Menurut Robert, keputusan untuk tidak menaikkan BBM subsidi penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. “BBM non-subsidi itu dikonsumsi masyarakat kelas atas yang tidak banyak berkontribusi terhadap inflasi,” kata dia.
Berdasarkan informasi di situs MyPertamina, harga sejumlah BBM non-subsidi mengalami kenaikan per 18 April. Pertamax Turbo dibanderol Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Sementara Dexlite menjadi Rp23.600 per liter dari sebelumnya Rp14.200 per liter.