BERITA TERKINI
Perang Iran dan Stok Menipis Picu Krisis Aluminium Global

Perang Iran dan Stok Menipis Picu Krisis Aluminium Global

LONDON – Perang Iran memicu guncangan besar di pasar aluminium global dan berpotensi menimbulkan efek berantai pada berbagai sektor, mulai dari konstruksi, pengemasan, transportasi, hingga energi hijau.

Menurut laporan Reuters pada 16 April 2026, dampak konflik diperkirakan tidak cepat pulih. Bahkan jika perang berakhir segera, Emirates Global Aluminium disebut bisa memerlukan waktu hingga satu tahun untuk pulih dari kerusakan akibat serangan rudal terhadap smelter Al Taweelah miliknya pada bulan sebelumnya.

Di kawasan yang sama, Aluminium Bahrain (Alba)—pabrik produksi lokasi tunggal terbesar di luar China—juga dilaporkan terkena serangan, meski tingkat kerusakannya belum diketahui. Alba sebelumnya telah mengurangi produksi sebelum serangan terjadi. Pengurangan produksi juga dilakukan Qatar Aluminium, yang disebut mengalami kekurangan pasokan listrik.

Situasi diperumit oleh pembatasan ketat pelayaran melalui Selat Hormuz. Dengan jalur pengiriman yang terganggu, risiko hilangnya produksi dapat meningkat karena smelter berpotensi kehabisan stok bahan baku.

Perusahaan konsultan Wood Mackenzie memperkirakan pasar global menghadapi defisit pasokan hingga 4 juta metrik ton pada tahun ini. Pembeli di negara-negara Barat diperkirakan menanggung dampak paling berat dari gangguan pasokan tersebut. Dalam beberapa pekan ke depan, para pembuat kebijakan disebut akan menghadapi pilihan sulit jika ingin meredam efek krisis.

Di masa lalu, pasar kerap mengandalkan stok aluminium di London Metal Exchange (LME) untuk menambah pasokan. Pada paruh pertama dekade lalu, persediaan terdaftar di LME sempat melampaui 5 juta ton. Namun kini stok LME menyusut drastis menjadi di bawah 400.000 ton, dengan tambahan sekitar 100.000 ton berada dalam kategori off-warrant.

Persediaan di gudang-gudang CME juga menipis. Total stok yang dapat dikirim dilaporkan merosot 70% sejak awal tahun dan kini hanya 1.864 ton.

Meski demikian, angka persediaan tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan ketersediaan yang dapat digunakan oleh semua pembeli. Aluminium asal Rusia—yang tidak dapat digunakan banyak pengguna di Barat akibat sanksi setelah invasi ke Ukraina—menyumbang sekitar 270.000 ton dari stok terdaftar LME pada akhir Maret.

Kondisi ini memicu perebutan pasokan non-Rusia. Disebutkan, seorang pelaku pasar sempat membatalkan (cancel) 98.000 ton aluminium India yang terdaftar di LME pada pekan pertama Maret, lalu mendaftarkan kembali (re-warrant) sebagian besar volume tersebut pada pekan lalu ketika time-spreads melonjak.

Patokan spread kas-ke-tiga-bulan melebar menjadi backwardation sebesar US$95,50 per ton, yang disebut sebagai kondisi paling ketat di pasar sejak 2007.

Di tengah tekanan pasokan, terdapat kapasitas smelter yang menganggur—terutama di Amerika Serikat dan Eropa—yang secara teori dapat diaktifkan kembali untuk membantu meredakan keketatan pasokan logam fisik.