BERITA TERKINI
Retno Marsudi Soroti Krisis Air Global saat Wisuda UMM, Mandat UNESCO Chair Diharap Dorong Inovasi Terjangkau

Retno Marsudi Soroti Krisis Air Global saat Wisuda UMM, Mandat UNESCO Chair Diharap Dorong Inovasi Terjangkau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dikukuhkan sebagai pemegang mandat UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Pengakuan tersebut mendapat apresiasi dari Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, yang menilai inovasi pengelolaan air yang dikembangkan UMM berpotensi memberi dampak luas.

Pernyataan itu disampaikan Retno dalam Wisuda ke-121 UMM yang digelar Selasa (28/4/2026) di dome UMM, Malang. Retno, yang juga Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024, hadir memberikan orasi ilmiah dan menekankan pentingnya peran kampus dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan.

Dalam orasinya, Retno menyoroti kebutuhan dunia terhadap riset dan pengembangan teknologi yang bukan hanya maju, tetapi juga terjangkau bagi semua negara, termasuk negara berkembang. Ia menilai langkah UMM mengembangkan teknologi air—di antaranya mini hidropower—sebagai kontribusi nyata yang dapat dimulai dari skala kecil namun berdampak besar.

“Dunia memerlukan teknologi yang affordable, yang bisa diakses oleh semua negara. Saya melihat UMM sudah memulai langkah itu melalui riset dan inovasi, termasuk pengembangan mini hidropower yang akan saya tinjau langsung,” ujar Retno.

Retno juga mengingatkan tiga tantangan besar terkait air yang dihadapi dunia saat ini, yakni banjir akibat pengelolaan curah hujan yang buruk, kekeringan ekstrem, serta pencemaran air yang membahayakan kesehatan. Menurutnya, ketiga persoalan tersebut harus diatasi secara kolektif karena air merupakan elemen utama kehidupan dan peradaban.

“Air adalah kehidupan. Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan dan peradaban tanpa air,” tegasnya di hadapan ribuan wisudawan.

Kepada para lulusan, Retno berpesan agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia mendorong wisudawan UMM untuk terus berkontribusi menjawab persoalan dunia, khususnya krisis air.

Ia turut mengapresiasi komitmen UMM dalam mengembangkan ekosistem perairan yang tidak hanya menekankan pelestarian lingkungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurut Retno, langkah-langkah di tingkat kampus dapat menjadi bagian penting dari solusi global.

“UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya pelestarian tetapi juga penguatan ekonomi masyarakat. Langkah kecil ini adalah bagian dari langkah besar dunia,” ujarnya.

Dalam paparannya, Retno memaparkan situasi krisis air global yang kian mengkhawatirkan akibat perubahan iklim. Ia menyebut hilangnya 600 gigaton gletser dunia pada 2023 sebagai indikator serius kerusakan lingkungan.

Secara global, Retno menyampaikan bahwa sekitar 80–90 persen bencana alam dalam satu dekade terakhir berkaitan dengan banjir. Pada 2024, bencana tersebut berdampak pada 400 juta orang dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga 550 miliar dolar AS. Ia juga menyebut ancaman kekeringan diperkirakan dapat memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030 serta berdampak pada sebagian besar populasi dunia pada 2050.

Selain itu, sebanyak 2,2 miliar penduduk dunia disebut masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman. Kondisi tersebut memicu penyakit akibat sanitasi yang buruk dan memperparah krisis kesehatan global.

Retno menambahkan, krisis air berpotensi melemahkan ketahanan pangan dunia mengingat sekitar 70 persen penggunaan air tawar dialokasikan untuk sektor pertanian. Karena itu, ia berharap mandat UNESCO Chair yang diterima UMM dapat dimanfaatkan untuk mendorong inovasi teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin hemat air.

Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menyatakan arah pengembangan kampus tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air.

Menurut Nazaruddin, pengelolaan air yang dikembangkan UMM tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi diarahkan menjadi solusi berkelanjutan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi untuk memperluas akses air bersih, terutama di wilayah yang masih mengalami keterbatasan.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Menutup rangkaian acara, Nazaruddin berpesan agar para wisudawan membawa semangat pelestarian lingkungan dalam setiap langkah. Ia menegaskan mandat UNESCO yang diterima UMM bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah yang perlu diwujudkan melalui aksi nyata.