BERITA TERKINI
Rupiah Menguat ke Rp17.143 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran dan Arah Kebijakan The Fed

Rupiah Menguat ke Rp17.143 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran dan Arah Kebijakan The Fed

JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa (21/4/2026) di tengah tekanan global yang masih tinggi. Rupiah naik 25 poin atau sekitar 0,15% ke level Rp17.143 per dolar AS.

Pergerakan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi saat ketidakpastian geopolitik, terutama terkait konflik Amerika Serikat dan Iran, masih membayangi sentimen global. Dalam kondisi seperti itu, dolar AS umumnya menguat sebagai aset safe haven. Namun, kali ini pelemahan indeks dolar AS justru memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah. Menurutnya, indeks dolar AS melemah pada Selasa (21/4/2026) sehingga memberikan sentimen positif, meskipun tekanan eksternal belum mereda.

Sepanjang perdagangan, penguatan rupiah sempat lebih besar sebelum terkoreksi tipis menjelang penutupan. Berdasarkan analisis pasar, rupiah sempat menguat hingga 35 poin pada sesi perdagangan sebelum akhirnya ditutup menguat 25 poin.

Dari sisi eksternal, pasar global masih dihantui ketidakpastian konflik AS-Iran. Situasi dinilai belum menunjukkan tanda mereda meski upaya diplomasi terus berjalan. Presiden AS Donald Trump disebut mengonfirmasi delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance akan menuju Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan damai. Namun, respons Iran disebut masih berhati-hati.

Ibrahim mengatakan Iran menyatakan pembicaraan sulit dilakukan selama AS masih mempertahankan blokade angkatan laut. Meski demikian, terdapat laporan bahwa Teheran tetap mengirim delegasi ke Islamabad, yang dinilai membuka peluang diplomasi meski terbatas.

Pasar juga mencermati gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026), dengan kemungkinan perpanjangan yang dinilai kecil. Risiko meningkat setelah adanya insiden penangkapan kapal berbendera Iran oleh militer AS.

Secara historis, konflik di Timur Tengah kerap memicu volatilitas pasar global, terutama melalui kenaikan harga energi dan penguatan dolar AS. Namun dalam beberapa pekan terakhir, pelaku pasar menilai respons pasar cenderung berbeda karena dolar AS melemah meski risiko geopolitik meningkat.

Selain geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk proses konfirmasi ekonom Kevin Warsh. Warsh dinilai memiliki pandangan yang tidak sepenuhnya dovish. Meski mendukung suku bunga rendah, ia sebelumnya mengkritik kebijakan pembelian aset oleh bank sentral AS dan mendorong neraca yang lebih ramping, berbeda dengan ekspektasi pasar yang menginginkan kebijakan lebih longgar.

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menopang rupiah. Pemerintah mencatat indikator positif seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terkendali. Defisit fiskal juga dijaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut terus difungsikan sebagai peredam gejolak untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global. Cadangan devisa dinilai masih memadai meski terjadi arus keluar modal asing sebesar USD1,8 miliar. Ibrahim menilai kredibilitas makro-finansial Indonesia masih terjaga, tercermin dari kemampuan menjaga defisit fiskal dan stabilitas pasar obligasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan, namun pergerakannya disebut masih berada dalam asumsi pemerintah. Kondisi itu dipandang sebagai sinyal bahwa kepercayaan investor belum mengalami penurunan signifikan.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah kembali menyoroti isu ketahanan energi. Pemerintah merespons dengan mempercepat reformasi struktural di sektor energi, termasuk penyederhanaan perizinan serta pembentukan task force untuk mengatasi hambatan impor energi, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pasokan global yang rentan terganggu oleh konflik geopolitik.

Penguatan rupiah ke Rp17.143 per dolar AS menunjukkan daya tahan mata uang Indonesia di tengah tekanan global. Meski didukung pelemahan dolar AS dan fundamental domestik yang dinilai solid, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan konflik global serta arah kebijakan moneter AS sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar ke depan.