BERITA TERKINI
Rusia Luncurkan Rudal Hipersonik Oreshnik ke Dekat Perbatasan Polandia, Eropa Nilai Eskalasi

Rusia Luncurkan Rudal Hipersonik Oreshnik ke Dekat Perbatasan Polandia, Eropa Nilai Eskalasi

Rusia kembali meningkatkan tensi perang di Ukraina dengan meluncurkan rudal hipersonik berdaya jangkau menengah ke wilayah Ukraina barat, hanya beberapa kilometer dari perbatasan Polandia, negara anggota NATO. Serangan yang terjadi semalam itu memicu kecaman dari sekutu Eropa Ukraina, yang menilai langkah Moskow sebagai upaya mengintimidasi agar dukungan kepada Kyiv dihentikan.

Otoritas Ukraina menyatakan rudal yang ditembakkan adalah Oreshnik, senjata balistik jarak menengah yang menurut Kremlin mustahil dicegat dan dirancang untuk memproyeksikan kekuatan Rusia ke seluruh Eropa. Ini merupakan kali kedua Rusia menggunakan Oreshnik terhadap Ukraina.

Serangan tersebut disebut menjadi bagian dari gelombang besar serangan udara yang juga menewaskan empat orang di Kyiv, memutus aliran listrik di ibu kota, serta merusak gedung Kedutaan Besar Qatar.

Oreshnik diketahui mampu membawa hulu ledak nuklir, meski tidak ada indikasi muatan semacam itu digunakan kali ini. Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan rudal tersebut tampaknya membawa hulu ledak inert atau “dummy”.

Sejumlah analis menilai serangan ini dimaksudkan untuk menekan Ukraina pada momen krusial pembicaraan guna mengakhiri perang. Aksi itu terjadi setelah sepekan yang dinilai penuh kemunduran bagi Moskow, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, yang disebut sebagai sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin.

Moskow menyatakan peluncuran Oreshnik dilakukan sebagai balasan atas dugaan upaya serangan drone Ukraina terhadap salah satu kediaman Putin bulan lalu. Klaim tersebut dibantah Ukraina dan Amerika Serikat, yang menyatakan insiden itu tidak pernah terjadi.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiha menyebut serangan di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO sebagai “ancaman serius bagi keamanan”. Dalam unggahan di X, ia menilai tidak masuk akal Rusia membenarkan serangan dengan dalih “serangan terhadap kediaman Putin” yang disebutnya palsu dan tidak pernah terjadi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga menekankan bahwa sasaran serangan berada sangat dekat dengan negara-negara Uni Eropa. Dalam pidato video malam hari, ia memperingatkan negara-negara tetangga Ukraina agar menyadari risikonya. Zelensky menyebut penggunaan balistik jarak menengah menjadi tantangan yang sama bagi sejumlah ibu kota di kawasan, termasuk Warsawa, Bucharest, dan Budapest.

Serangan itu terjadi beberapa hari setelah pertemuan puncak negara-negara Eropa yang berjanji menyiapkan pasukan untuk Ukraina jika tercapai gencatan senjata, serta dukungan Washington terhadap pemberian jaminan keamanan bagi Kyiv.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyebut penggunaan Oreshnik sebagai “eskalasi yang jelas”. Ia mengatakan langkah Rusia merupakan peringatan bagi Eropa dan Amerika Serikat, serta mendesak negara-negara Uni Eropa memperkuat stok pertahanan udara dan segera mengirimkannya. Kallas juga menyerukan peningkatan biaya perang bagi Moskow, termasuk melalui sanksi yang lebih keras.

Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang berbicara dengan para pemimpin Prancis dan Inggris, menyampaikan sikap serupa. Ia menyebut gestur ancaman dimaksudkan untuk menebar ketakutan, namun menegaskan hal itu tidak akan berhasil dan Jerman berdiri bersama Ukraina.

Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan rudal tersebut menghantam bengkel milik sebuah perusahaan negara di kota Lviv, Ukraina barat, dekat perbatasan Polandia. Dampak dari beberapa submunisi dilaporkan menyebabkan “penetrasi kecil pada struktur beton” di bengkel tersebut serta membentuk kawah di area hutan di sekitarnya.

Secara terpisah, dinas keamanan negara Ukraina (SBU) menyatakan Rusia juga berupaya menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah sekitar, di tengah kondisi cuaca yang disebut “memburuk dengan cepat”.

Sementara itu, Moskow mengklaim serangan menargetkan infrastruktur energi dan sebuah pabrik yang memproduksi drone yang disebut digunakan dalam serangan terhadap kediaman Putin. Kyiv menilai tuduhan bahwa Ukraina menyerang kediaman Putin di wilayah Novgorod pada 29 Desember sebagai “kebohongan absurd” yang bertujuan menggagalkan perundingan damai.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ia tidak percaya insiden serangan terhadap kediaman Putin terjadi, meski mengakui ada kejadian lain di wilayah tersebut.