Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuding para pejabat Uni Eropa (UE) sengaja menyoroti protes di Iran untuk mengalihkan perhatian publik dari klaim Amerika Serikat atas Greenland. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan stasiun radio Sputnik pada Rabu (14/1/2026).
Zakharova mempertanyakan mengapa UE tidak memusatkan perhatian pada isu Greenland. Menurutnya, situasi di Iran dapat dijadikan dalih yang “nyaman” bagi para pejabat UE untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari apa yang ia sebut sebagai upaya perebutan pulau tersebut.
Dalam pernyataannya, Zakharova juga menyampaikan sindiran agar para pejabat UE mengingat kembali reaksi mereka terhadap penyatuan Krimea dengan Rusia pada 2014. Ia menyarankan agar pernyataan-pernyataan UE saat itu digunakan kembali untuk “membangkitkan semangat” mereka terkait topik Greenland.
Zakharova turut mempertanyakan mengapa situasi di negara lain lebih menjadi perhatian UE dibandingkan persoalan yang menyangkut wilayah di lingkungan negara anggotanya sendiri. Dalam konteks Krimea, ia menyebut wilayah tersebut bergabung dengan Rusia setelah referendum yang diklaim menghasilkan dukungan 96,77% penduduk setempat, menyusul kudeta di Kiev.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat dengan alasan penting secara strategis bagi keamanan nasional dan pertahanan “dunia bebas”. Pernyataan itu ditolak oleh otoritas Denmark dan Greenland, yang menegaskan harapan agar integritas teritorial dihormati.
Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark sejak 2009.

