Kombinasi tarif perdagangan yang disebut berada pada level tertinggi dalam satu abad dan gejolak energi akibat perang di Iran dinilai memperbesar ketidakpastian ekonomi global. Dalam percakapan yang menyinggung pandangan Christiane Nickel, situasi tersebut digambarkan sebagai tekanan ganda yang berpotensi mengganggu fundamental ekonomi dan memicu volatilitas di pasar keuangan.
Tarif perdagangan pada dasarnya merupakan biaya tambahan atas barang impor. Ketika tarif naik, harga barang impor ikut terdorong, sehingga produsen dapat menahan impor bahan baku dan konsumen menghadapi harga yang lebih mahal. Kondisi ini dikaitkan dengan dinamika perang dagang yang berulang dalam beberapa tahun terakhir, ketika negara-negara berupaya melindungi industri domestik melalui kenaikan tarif yang kerap dibalas oleh mitra dagang, sehingga menekan perdagangan global.
Di saat yang sama, perang di Iran disebut memunculkan “kejutan energi”. Sebagai salah satu produsen minyak utama, ketegangan di wilayah tersebut dapat mengganggu pasokan minyak global dan memengaruhi harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak kemudian berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, serta mendorong kenaikan harga di berbagai sektor.
Gabungan tarif tinggi dan tekanan energi ini dipandang menciptakan ketidakpastian yang membuat pelaku usaha cenderung menunda investasi dan ekspansi. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi berisiko melambat. Sementara itu, kenaikan biaya produksi dan energi dapat mendorong inflasi, sehingga menciptakan situasi yang menantang bagi kebijakan moneter. Pandangan yang disampaikan Nickel disebut merupakan pendapat pribadi dan tidak otomatis mewakili European Central Bank (ECB), namun kekhawatirannya dinilai relevan untuk banyak perekonomian, termasuk zona euro.
Di pasar keuangan, ketidakpastian global kerap mendorong pergeseran ke aset yang dianggap lebih aman. Untuk pasangan EUR/USD, meningkatnya ketidakpastian di zona euro—di tengah risiko perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi—dapat memberi tekanan pada euro terhadap dolar AS, yang sering dipandang sebagai aset safe haven saat gejolak meningkat.
Pasangan GBP/USD juga berpotensi terdampak, mengingat Inggris dinilai rentan terhadap guncangan ekonomi global. Faktor spesifik seperti dinamika pasca-Brexit dapat menjadi variabel tambahan bagi pergerakan poundsterling, di luar sentimen global terkait tarif dan energi.
Sementara itu, pergerakan USD/JPY dinilai bisa lebih kompleks. Di satu sisi, dolar AS kerap menguat saat pasar memasuki fase risk-off. Namun di sisi lain, yen Jepang juga dikenal sebagai aset safe haven tradisional, sehingga penguatan yen dapat terjadi ketika kekhawatiran global meningkat tajam.
Emas (XAU/USD) disebut sebagai instrumen yang sering diburu ketika ketidakpastian meningkat. Tarif tinggi dan konflik geopolitik dinilai dapat memperkuat permintaan emas sebagai penyimpan nilai, sehingga membuka peluang kenaikan harga apabila ketegangan berlanjut dan sentimen pasar memburuk.
Komoditas energi seperti minyak mentah juga berpotensi mengalami volatilitas tinggi. Gangguan pasokan terkait konflik di Iran dapat mendorong harga minyak naik, yang berimplikasi pada sektor energi sekaligus menjadi beban biaya bagi sektor lain yang bergantung pada energi.
Di tengah kondisi tersebut, peluang trading disebut tetap ada, terutama bagi pelaku pasar yang memantau aset sensitif komoditas dan pergeseran sentimen safe haven. Mata uang yang terkait ekspor komoditas dapat bergerak volatil ketika harga minyak dan komoditas lain berfluktuasi. Selain itu, instrumen yang sering dikaitkan dengan arus safe haven—termasuk dolar AS, yen Jepang, dan emas—cenderung menjadi fokus ketika ketidakpastian meningkat.
Namun, risiko lonjakan volatilitas juga ditekankan. Ketika faktor fundamental seperti tarif dan konflik geopolitik bertemu, pasar dapat bereaksi berlebihan dalam waktu singkat. Karena itu, kewaspadaan terhadap pergerakan mendadak, disiplin manajemen risiko, serta penyesuaian ukuran posisi dan penggunaan stop-loss menjadi perhatian penting bagi trader retail.
Secara keseluruhan, tarif dagang tinggi dan perang di Iran digambarkan sebagai dua sumber utama ketidakpastian yang dapat menghambat pertumbuhan dan mendorong inflasi, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar. Bagi trader retail di Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika kebijakan global dan geopolitik dapat cepat merembet ke pergerakan mata uang, komoditas, dan aset lindung nilai.

