Dunia kembali menghadapi potensi krisis minyak mentah dalam beberapa bulan terakhir seiring perang antara Israel–Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Dampaknya disebut meluas setelah Republik Islam Iran secara resmi menutup akses Selat Hormuz di Teluk Persia, yang memicu gangguan pada jalur utama perdagangan minyak dan gas (migas) dunia.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan memunculkan kelangkaan di sejumlah negara akibat terbatasnya pasokan. Namun, krisis minyak bukanlah peristiwa baru. Sejumlah guncangan besar pernah terjadi sebelumnya dan meninggalkan dampak luas terhadap ekonomi global.
Berikut rangkuman tujuh krisis minyak dunia yang disebut paling mengguncang sepanjang sejarah.
1. Krisis minyak 1973: Perang Yom Kippur dan embargo OPEC
Pada awal 1970-an, serangkaian guncangan yang kerap disebut “Guncangan Minyak” mulai muncul di sejumlah negara, bertepatan dengan ditinggalkannya sistem keuangan internasional Bretton Woods. Krisis memanas saat Perang Yom Kippur pada 1973, ketika negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mengumumkan embargo minyak terhadap negara-negara yang mendukung Israel, termasuk AS, Belanda, Portugal, dan Afrika Selatan.
Harga minyak melonjak hingga empat kali lipat, dari sekitar USD3 menjadi hampir USD12 per barel. Dampaknya meluas ke ekonomi global, memicu inflasi tinggi dan resesi di banyak negara maju. Pendapatan ekspor minyak negara OPEC juga meningkat tajam dari USD7,7 miliar pada 1970 menjadi USD88,8 miliar pada 1974, yang menandai lahirnya era petrodollar.
Embargo dicabut pada 1974. Meski pengurangan pasokan global disebut hanya sekitar 9% selama lima bulan, penggunaan minyak sebagai “senjata” memicu kepanikan dan menegaskan kekuatan geopolitik baru negara-negara produsen minyak.
2. Krisis minyak 1979: Revolusi Iran
Krisis kembali terjadi pada 1979 ketika revolusi menggulingkan Shah Iran, yang diikuti penurunan tajam produksi minyak mentah Iran. OPEC kemudian memutuskan menaikkan harga minyak mentah rata-rata 10% per tahun secara bertahap.
Harga minyak melonjak dari sekitar USD15 per barel menjadi USD40 per barel dalam waktu singkat. Krisis ini turut memicu inflasi tinggi di AS dan Eropa.
3. Krisis minyak 1990: Perang Teluk
Pada 1990, Irak menyerbu Kuwait dan memicu Perang Teluk Persia. Pasukan Irak bergerak ke ladang-ladang minyak di kawasan Teluk Persia dan menghancurkan ladang minyak di Kuwait.
Menurut laporan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), harga minyak mentah meningkat drastis dari kisaran USD15–USD17 menjadi sekitar USD40 per barel. Untuk meredakan dampak perang, Badan Energi Internasional (IEA) memutuskan melepas cadangan energi strategis sebesar 2,5 juta barel minyak ke pasar setiap hari.
4. Krisis minyak 2008: Efek subprime mortgage
Tahun 2008 menjadi periode dramatis bagi pasar energi seiring krisis hipotek (subprime mortgage) yang memicu krisis keuangan global, termasuk kebangkrutan bank investasi AS Lehman Brother. Dalam situasi itu, harga minyak menyentuh rekor sekitar USD140 per barel.
Lonjakan disebut dipicu kombinasi spekulasi pasar komoditas, permintaan energi dari China dan India, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun setelah krisis finansial global menghantam, permintaan minyak menurun pada 2008–2009.
5. Krisis minyak 2020: Pandemi Covid-19 dan perang harga Arab Saudi–Rusia
Pandemi Covid-19 pada 2020 memicu penurunan permintaan energi secara tajam akibat lockdown global dan pembatasan mobilitas. Kontraksi permintaan membuat harga minyak jatuh, bahkan memunculkan fenomena kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) yang sempat diperdagangkan pada harga negatif, mencerminkan ketimpangan besar antara permintaan dan pasokan.
Pada tahun yang sama, situasi diperparah oleh perang harga antara Rusia dan Arab Saudi. Riset TRT World Research Centre mencatat harga minyak mentah WTI pada April 2020 sempat turun dari sekitar USD50 per barel menjadi sekitar USD10 per barel.
Dalam periode pandemi, konsumsi bensin disebut turun 46,40% dari 9,45 juta barel per hari menjadi 5,1 juta barel per hari. Setelah perang harga berlangsung hampir sebulan, Arab Saudi dan Rusia sepakat mengurangi produksi, dan negara-negara OPEC serta non-OPEC kemudian menyepakati pemangkasan produksi.
6. Krisis minyak 2022: Invasi Rusia ke Ukraina
Invasi Rusia ke Ukraina kembali mengguncang pasar minyak global. Harga minyak Brent melonjak hingga sekitar USD130 per barel, tertinggi sejak 2008.
Rusia, sebagai salah satu produsen minyak terbesar, mendapat sanksi ekonomi dari negara-negara Barat. Kondisi ini membuat pasokan energi global terancam dan mendorong harga minyak kembali naik.
7. Krisis minyak 2026: Perang Israel–AS dengan Iran dan penutupan Selat Hormuz
Serangan Israel–AS ke Iran pada 28 Februari 2026 disebut menjadi babak baru guncangan pasar minyak global. Harga minyak mentah melonjak setelah Iran memblokade akses Selat Hormuz.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, kekurangan pasokan energi dan bahan bakar mulai muncul di sejumlah negara Asia, dari Thailand hingga Pakistan. Krisis juga diperkirakan berpotensi menyebar ke negara-negara Barat; Eropa disebut berisiko menghadapi lonjakan harga dan kekurangan solar dalam beberapa waktu mendatang.
Pada 2 April 2026, harga minyak dunia tercatat naik menjadi USD109 per barel. Sejumlah pakar energi memperingatkan harga minyak mentah dapat terus meningkat apabila perang berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, sehingga dunia disebut harus mengurangi penggunaan minyak dan gas secara signifikan.