BERITA TERKINI
Vijay Prashad Dorong Indonesia Tegas Mendekolonisasi Cara Pandang di Tengah Krisis Global

Vijay Prashad Dorong Indonesia Tegas Mendekolonisasi Cara Pandang di Tengah Krisis Global

Jakarta — Sejarawan dan intelektual Vijay Prashad mendorong Indonesia mengambil posisi yang lebih tegas menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Ia menilai Indonesia perlu kembali pada semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 serta warisan pemikiran Presiden pertama RI, Soekarno, sebagai pijakan untuk memperkuat agenda dekolonisasi.

Pernyataan itu disampaikan Prashad dalam public lecture bertajuk The Global South Today: Crisis, Resistance, and Possibilities di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin, 20 April. Acara tersebut disebut sebagai kelanjutan dari forum serupa yang digelar di Bandung sehari sebelumnya.

Dalam pengantar acara, Kepala Badan Sejarah PDIP Bonnie Triyana menegaskan bahwa sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari jejaring internasional gerakan antikolonial. Anggota Komisi X DPR RI itu juga menyinggung KAA sebagai momentum penting solidaritas negara-negara Global South.

Bonnie menyatakan kolonialisme secara formal mungkin telah berakhir, namun kolonialitas masih berlangsung hingga kini. Ia menekankan bahwa dekolonisasi tidak hanya menyangkut politik, tetapi juga bahasa dan cara berpikir. Menurutnya, sejumlah istilah yang digunakan sehari-hari merupakan produk kolonial sehingga perlu ditinjau ulang.

Sementara itu, Prashad menyoroti perubahan lanskap global sejak krisis finansial 2007–2008. Ia berpendapat situasi tersebut memicu kekhawatiran Amerika Serikat dan sekutunya terhadap kebangkitan Asia, terutama China.

Prashad mengatakan ada keyakinan bahwa kekuatan militer dan media dapat digunakan untuk memaksa negara-negara seperti China dan Indonesia kembali ke posisi lama sebagai “buruh dunia”. Ia juga menilai tekanan terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan Barat—seperti Iran, Kuba, dan Venezuela—sebagai bentuk baru imperialisme.

Dalam paparannya, Prashad menyebut Iran sebagai simbol ketidakpatuhan dan menyatakan negara yang tidak mengikuti Amerika Serikat akan “membayar harga”. Ia juga mengkritik agresi militer serta menyebut keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik global, termasuk di Gaza. Prashad menyatakan bahwa publik mengetahui apa yang terjadi, namun menurutnya masih kurang keberanian untuk menyuarakan penghentian kekerasan.

Dalam konteks Indonesia, Prashad mendorong keberanian untuk mengedepankan semangat dekolonisasi di tengah tekanan global. Ia menyatakan bahwa jika Amerika Serikat mengusung slogan “America First”, maka Indonesia juga perlu berani mendekolonisasi cara pandang dan mengutamakan kepentingan bangsa.