Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia menegaskan peran strategis perempuan dalam menjaga ketahanan rantai pasok nasional di tengah disrupsi logistik global. Penegasan itu disampaikan dalam peringatan hari jadi ke-5 WiLAT Indonesia melalui seminar bertema “Navigating Logistics Disruption Amid Rising Geopolitical Tension” yang digelar di Jakarta.
Acara tersebut dihadiri sekitar 200 peserta yang berasal dari unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, serta mitra global. Momentum ini sekaligus menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam menghadapi meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang berdampak pada rantai pasok Indonesia.
WiLAT Indonesia memaparkan bahwa ketegangan geopolitik—mulai dari konflik di Laut Merah dan Selat Hormuz, perang dagang, hingga krisis energi—telah memberi dampak signifikan terhadap rantai pasok global. Kondisi itu disebut memicu kenaikan tarif pengiriman (freight) hingga 300 persen serta menambah waktu pengiriman (lead time) selama 14–21 hari.
Di sisi lain, Indonesia masih dihadapkan pada tantangan biaya logistik yang tinggi, yang mencapai 23 persen berdasarkan data Bank Dunia. Dalam konteks tersebut, WiLAT menilai penguatan daya saing logistik nasional menjadi agenda penting yang membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Ketua WiLAT Indonesia, Nurmaria Sarosa, menyampaikan bahwa perjalanan organisasi selama lima tahun menunjukkan kontribusi perempuan di sektor logistik dan transportasi. Ia menuturkan bahwa WiLAT Indonesia kini memiliki lebih dari 300 anggota yang tersebar di empat kota besar, serta terlibat dalam diskusi bersama para pengambil keputusan untuk mendorong industri logistik dan transportasi Indonesia lebih kompetitif di tingkat global.
Untuk merespons disrupsi global, WiLAT Indonesia mendorong penguatan tiga aspek utama, yaitu peningkatan agilitas melalui digitalisasi, diversifikasi rute distribusi, serta peningkatan kualitas pemasok melalui kolaborasi lintas sektor guna mendukung multimodal dan green logistics. Nurmaria juga menekankan tanggung jawab bersama pelaku industri dan pemerintah untuk menurunkan biaya logistik, seraya menyebut bahwa setiap penurunan 1 persen biaya logistik dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,1–0,3 persen.
Dalam kesempatan yang sama, WiLAT Indonesia meluncurkan WiLAT e-Bulletin sebagai wadah berbagi pengetahuan sekaligus upaya mencetak talenta perempuan di bidang digital freight, risk management, dan green supply chain. Nurmaria menegaskan bahwa masa depan logistik Indonesia dibangun bersama dan oleh perempuan.
Seminar tersebut turut dihadiri perwakilan Kementerian Perhubungan, BUMN seperti Pelindo dan Pelni, serta pelaku usaha swasta seperti Blue Bird dan Samudera Indonesia. Sejumlah asosiasi juga hadir, di antaranya ALI, Aptrindo, AHLI, NLC, ALFI, dan IMTA, serta akademisi dari ITL Trisakti dan Universitas Mahakarya Asia.
Presiden Chartered Institute of Logistics and Transport Indonesia, Iman Gandhi, mengapresiasi WiLAT sebagai organisasi yang dinilai konsisten mengembangkan kompetensi perempuan di industri logistik dan transportasi. Hadir pula Juliana Sofia Dhamu yang disebut menunjukkan eksistensi perempuan Indonesia di tingkat internasional.
Sementara itu, pakar halal logistics Marco Tieman menyoroti besarnya peluang Indonesia dalam mengembangkan sistem logistik halal. Di akhir rangkaian kegiatan, WiLAT Indonesia menyatakan komitmennya memperkuat lima pilar utama—Leadership, Mentoring, Entrepreneurship, Empowering, dan Social—untuk membangun ekosistem logistik yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.