BERITA TERKINI
Haidar Alwi Nilai Krisis Biaya Hidup Singapura Picu Pergeseran Konsumsi ke Indonesia

Haidar Alwi Nilai Krisis Biaya Hidup Singapura Picu Pergeseran Konsumsi ke Indonesia

JAKARTA — Dalam dua tahun terakhir, Singapura dilaporkan menghadapi tekanan biaya hidup dan biaya usaha yang kian berat. Lonjakan sewa ruko disebut memicu penutupan lebih dari 3.000 restoran dan gerai ritel, menjadi catatan terburuk dalam dua dekade. Pada Januari 2026 saja, hampir 200 gerai tercatat berhenti beroperasi dalam satu bulan, menandai eskalasi tekanan yang dinilai tidak lagi bersifat insidental.

Dampak tekanan biaya tersebut disebut terjadi lintas segmen, mulai dari pedagang kaki lima, pusat jajanan, dan pujasera, hingga jaringan ritel besar serta restoran berlabel Michelin Star. Pada saat yang sama, perekonomian Singapura juga disebut melambat. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang sebelumnya berada di kisaran 2,5 persen tertekan mendekati 1 persen, dengan proyeksi terendah di antara negara-negara ASEAN. Tekanan biaya usaha yang disebut menggerus hingga 60–70 persen pendapatan pedagang membuat banyak aktivitas ekonomi kehilangan keberlanjutan.

Dalam konteks itu, Ir. R. Haidar Alwi, MT—Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB—menilai krisis biaya hidup Singapura tidak semata persoalan domestik negara tersebut. Menurut dia, kondisi itu dapat dibaca sebagai external shock regional yang berdampak lintas kawasan dan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi Indonesia.

“Krisis biaya hidup tidak selalu mematikan daya beli. Dalam banyak kasus, yang terjadi bukan hilangnya konsumsi, melainkan perpindahan konsumsi. Ketika harga menjadi tidak rasional di satu wilayah, pasar akan secara alami mencari wilayah lain yang lebih masuk akal secara biaya, akses, dan jarak,” kata Haidar Alwi.

Ia menilai tekanan ekonomi tidak selalu identik dengan stagnasi. Dalam sistem ekonomi terbuka, krisis biaya justru dapat memicu pergeseran arus konsumsi lintas wilayah. Uang, menurut dia, tidak berhenti beredar, melainkan berpindah mengikuti struktur biaya yang lebih rasional, tanpa menunggu intervensi kebijakan negara.

Haidar Alwi menjelaskan, dalam perspektif ekonomi regional, external shock merujuk pada guncangan yang berasal dari luar sistem suatu negara, namun memengaruhi keseimbangan ekonomi di kawasan sekitarnya. Krisis biaya hidup di Singapura, menurut dia, memenuhi karakter tersebut karena tekanan sewa dan biaya usaha tidak memusnahkan kemampuan belanja, tetapi mendorong perpindahan lokasi konsumsi ke wilayah yang dianggap lebih rasional.

Fenomena itu, menurutnya, terlihat pada jalur Singapura–Batam. Ia menyebut ribuan orang menyeberang setiap hari bukan untuk wisata eksklusif, melainkan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan belanja bulanan. Jadwal feri yang padat hingga setiap 30 menit, penambahan armada, serta pembukaan rute baru sejak akhir 2025 disebut menjadi indikator meningkatnya mobilitas sekaligus arus konsumsi kawasan.

“Yang terjadi saat ini bukan migrasi penduduk, melainkan migrasi konsumsi. Warga Singapura tetap bekerja dan tinggal di negaranya, tetapi titik belanjanya berpindah. Ini adalah respons rasional terhadap struktur biaya yang timpang, bukan fenomena sementara,” ujar Haidar Alwi.

Ia menilai pergeseran tersebut menunjukkan Batam dapat menjadi simpul baru dalam mekanisme pasar ASEAN. Ketika satu wilayah kehilangan rasionalitas harga, wilayah lain disebut akan berfungsi sebagai penyeimbang alami.

Menurut Haidar Alwi, perpindahan konsumsi lintas negara itu membawa keuntungan bagi ekonomi Indonesia. Belanja harian warga Singapura dinilai menciptakan perputaran uang yang cepat, stabil, dan berulang, dengan dampak yang dapat dirasakan oleh UMKM, sektor kuliner, ritel lokal, transportasi, hingga logistik. Ia juga menilai arus konsumsi tersebut menghasilkan devisa yang “sehat” karena bertumpu pada kebutuhan riil.

“Ekonomi rakyat tidak tumbuh dari janji besar, tetapi dari konsumsi yang terus berulang. Uang yang berputar setiap hari menciptakan ketahanan ekonomi yang jauh lebih stabil dibanding uang besar yang datang sesekali,” kata Haidar Alwi.

Ia menilai lonjakan kunjungan warga Singapura ke Indonesia, khususnya ke Batam, menjadi sinyal bahwa arah roda ekonomi ASEAN mulai mengalami pergeseran. Dalam pembacaan Haidar Alwi, Indonesia perlahan menempati posisi sebagai wilayah penyeimbang biaya hidup kawasan, yang ia sebut sebagai keuntungan strategis.